Senyum Ibu

Aku tahu betul rasanya dijanjikan kasih sayang dan kini malah mengais untuk itu. Kesana kemari, dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, tapi mengais kasih sayang berkali-kali lipat lebih sulit dibanding hanya mengais uang dan makanan. Aku lapar dan haus dan tiap hari ku dapat setidaknya satu botol air minum dan sebungkus nasi dengan lauk pauk seadanya. Tapi, aku merindukan pelukan dan yang kudapatkan adalah tamparan, aku merindukan belai lembut bibir manusia dan yang kudapatkan hanyalah cacian. Mungkin tidak rindu sebab aku tak pernah merasakan hal-hal tersebut, jadi, bagaimana bisa merindukan sesuatu hal yang belum pernah kurasakan dan kudapatkan?

Ibuku seorang yang cantik. Tubuhnya indah, perutnya tak bergelambir walau sudah melahirkanku, mungkin aku lahir dengan cara yang normal sehingga dengan alami perut ibu menjadi langsing kembali seperti semula. Atau mungkin pula, aku tak pernah dilahirkan olehnya. Aku ditemukannya di tumpukan sampah, di bantaran kali, atau di depan pintu rumahnya saat hujan. Entah siapa yang meninggalkanku di sana. Wajah Ibu cantik, alis mata yang tebal membingkai indah sudut matanya, hidungnya mancung, serta bibirnya yang merah merona dan tebal membuatnya nampak seperti aktris terkenal Angelina Jolie. Sayang, aku tak bisa mendeskripsikan senyuman yang kata banyak laki-laki manis itu, sebab ibu tak pernah memberikan senyumnya cuma-cuma. Ia akan tersenyum jika mendapat lembaran uang dan aku mencari makan saja susah sehingga bagaimana lah bisa memberinya uang agar ia tersenyum padaku.

Mungkin dulu ibu sempat tersenyum. Setidaknya, itulah yang selembar kertas katakan padaku yang dua tahun lalu kutemukan di laci kamar ibu. Ibu meneriakiku saat itu meminta diriku untuk mengambil minyak kayu putih di dalam laci kamarnya. Ia bilang, perutnya sakit dan terasa kembung sehingga saban hari tak hentinya ia mual-mual. Aku berlari ke kamarnya buru-buru mencari minyak kayu putih yang ibu inginkan. Bukan minyak kayu putih yang kudapatkan, melainkan selembar kertas sobekan. Awalnya, aku tak peduli, aku lebih memperdulikan teriakan ibu yang semakin memekakkan telingaku. Namun, aku melihat sepatah kata, “Saya mencintai anak saya.” Dan tanpa pikir panjang ku buka surat itu. Aku baca semua kata bahkan setiap tanda baca tanpa terkecuali. Aku membaca pula gambar yang ada di dalam kertas itu. Sketsa seorang ibu menyusui anaknya. Entah siapa ibu dan anak itu, namun yang pasti aneh saja rasanya membayangkan bahwa ibu itu adalah ibuku dan bayi itu adalah aku. Mustahil saja seakan-akan tak ada pengalaman dikasihi seperti itu pada memoriku.

“Vera! Mana minyak kayu putih ibu? Lemot banget kamu!” Tubuhku bergerak terkejut mendengar suara ibuku yang menggelegar. Aku menutup rapat surat itu, melipatnya, memasukkannya pada saku bajuku. Segera setelah itu, kutemukan minyak kayu putih di bawah kasur ibu. Kuraih dan kuantarkan pada ibu.

Setelah menyimpan surat itu, aku tak pernah absen membacanya tiap malam tepat tiap ingin tidur. Aku membayangkan bahwa ibu dan bayi pada gambar itu adalah ibu dan aku serta tulisan itu adalah tulisan ibu. Setidaknya 30 menit setiap malam kurasakan bahwa aku dikasihi dan disayangi dan hidupku tak sia-sia sebab ada orang yang menginginkanku. Walau, tetap saja, esok pagi saat bangun, ibu baru saja kembali dengan membawa seorang lelaki yang berbeda-beda tiap harinya. Mereka berdua nampak teler dengan masing-masing menggenggam botol hijau yang besar.

Tidak. Tidak setiap hari, ibu pulang pagi. Kadang, ia bisa di rumah selama seminggu. Bangun siang, nonton televisi sambil menyuruhku memijat kakinya. Ia juga bisa memakan habis kudapan-kudapan yang didapatkannya dari laki-laki yang datang ke rumah. Kadang juga, ia memakai topeng putih dan kacamata mentimun. Ia akan tertidur lelap di sofa di ruang tamu. Aku akan senang sekali ketika selama seminggu itu mood-nya menjadi memasak makanan super enak sambil dirinya berdendang. Harum masakan itu akan membuat kerongkonganku basah dan perutku berbunyi.

Kemudian, ibu akan berteriak, “Vera! Hari ini makan di rumah, ibu masak bening bayam dan tempe bacem.” Bahkan, sebelum dirinya berteriak, aku sudah berdiri di balik punggungnya. Dan ia seperti biasa akan terkejut melihatku, tapi tidak, ia tak tersenyum.

“Duduk sini!” Lalu, aku akan duduk. Wajahku penuh senyuman. Ibu akan memalingkan pandangannya dari diriku. Ia sibuk menyendok nasi dari bakul, sayur, dan tempe bacem dari piring makanan ke piringku.

“Makan yang banyak! Boleh jadi besok kamu akan mengais kembali sisa-sisa makanan orang-orang.” Aku mengangguk mantap. Hari ini adalah hari perbaikan gizi bagiku, ucapku dalam hati.

Sayangnya, hal semacam itu hanya bertahan beberapa saat saja dan jarang-jarang. Setelah seminggu penuh ibu senang memasak, ibu akan kembali senang berangkat malam, pulang pagi, atau bahkan berdandan amat cantik dan menerima berbagai tamu laki-laki. Ia kemudian akan lupa bahwa ia memiliki diriku dan ia akan membiarkanku mengais makanan lagi, menangis lagi tiap malam sambil membaca lembar kertas yang kutemukan di laci ibu, lalu aku akan bermimpi dalam tidurku bahwa ibu tersenyum, mengantarkanku ke sekolah, memasakkanku makanan lezat tiap harinya, dan memberikanku kecupan sebelum tidur layaknya yang seorang ibu lakukan pada anaknya.

Kini, sudah 3 bulan, ibu tak lagi memiliki mood untuk memasak. Ia terus-terusan membawa laki-laki ke rumah ini. Pendengaranku terganggu lagi oleh suara desahan menjijikkan dan teriakan ganas ibuku. Aku pun lebih sering keluar rumah. Aku akan berlari jauh-jauh menuju ujung Bumi yang tak berujung. Aku akan membawa lembar kertas itu dan membaca kalimat yang membuatku tertarik membaca kertas itu, “Saya mencintai anak saya.” Air mataku akan jatuh membanjiri trotoar yang kulewati. Mungkin bukan membanjiri manusia yang tinggal di trotoar itu, namun membanjiri makhluk lainnya, semut misalnya. Dan aku kemudian sadar bahwa rasa sedihku tak hanya merugikan diriku, namun juga kawanan semut yang sedang berkumpul yang tiba-tiba tubuh mereka basah terkena air mataku.

Namun, entah bagaimana Tuhan menciptakan semut. Semut tak punya dendam dan melakukan apa yang bisa baik bagi yang lain. Aku mendapat hal yang kucari selama ini dari kawanan semut itu. Hal tersebut memang basah. Aku harus mengeringkannya beberapa saat hingga aku bisa menggunakan hal itu sebagai ganti hal paling berharga dalam hidupku.

Pukul 4 pagi saat suara-suara merdu memenuhi ruang-ruang suara di udara aku pulang ke rumah. Walau merdu dan beberapa kali menyebut nama Tuhan, aku tak pernah merasa lebih baik. Aku tetaplah seorang anak yang mengais kasih sayang seumur hidukup.

Ketika kubuka pintu rumah, seorang laki-laki dengan janggut, jambang, dan kumis yang memenuhi pipinya menatapku.

“Jadi, inikah anakku?” katanya.

Aku memandangnya penuh dengki dan jijik. Siapa lah orang ini? Aku tak punya ayah. Laki-laki tidak pernah ada. Ibuku seorang Maria.

“Peluk papa, nak.” Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya pada tubuhku. Aku sigap menghalaunya. Ku dorong ia dengan kekuatan penuh yang kupunya. Ia mundur beberapa langkah.

Mata lelaki itu melotot merah. Tubuhnya bergetar geram. Ia menonjok wajahku dengan kekuatan penuh yang ia punya. Aku terjerembab ke dinding di belakangku, duduk tak berdaya, mataku buram, namun ku lihat kakinya di hadapanku dan darah mengalir di bibirku.

“Astaga! Apa yang kau lakukan pada anakku?” Suara ibu menggenang di telingaku. Suara yang kuanggap sebagai mimpi-mimpi dan angan-anganku.

“Pergi kau bajingan!” Suara itu muncul lagi saat penglihatanku makin kabur.

“Keluar kau dari rumahku! Keluar!” Dan aku pun tak bisa melihat apapun.

Aku melihat senyum itu di balik kabut cahaya yang menyiksa penglihatanku. Buram kelihatannya. Aku hanya bisa melihat segaris putih terbentuk melengkung dan percayalah walau hanya segitu, itu adalah hal paling indah dalam hidupku.

“Vera, kamu sudah sadar, nak?” Suara itu persis sekali seperti yang kudengar terakhir kali ku sadar. Aku segera mengeluarkan benda yang semut berikan padaku.

“Ibu, aku punya uang. Tersenyumlah.” Bisikku.

Ibu tertawa sambil air matanya berjatuhan membasahi pipiku juga sebab ia menciumku dan memelukku. Tepat saat itu, aku tersadar, bahwa senyum ibu dan kasih sayangnya tidak terbayar dengan uang, melainkan luka-lukaku dan ketidaksadaranku.

*gambar diambil dari salah satu scene film Still Alice (2015).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s