Aku Lesbian, Yah

Suatu hari, ibuku memanggilku ke ruang tamu. Ia tak biasanya seperti itu, sebab ruang tamuku terlalu sempit untuk dihuni oleh ayah yang merokok, adik balitaku yang bermain mobil-mobilan dan pembantu yang membersihkan ruangan itu. Ruang itu jarang sekali diinjak oleh kakiku atau diduduki oleh pantatku. Ibuku juga jarang sekali ke sana. Ia benci dengan asap rokok ayah yang jika tak diingatkan akan selalu berterbangan di ruangan itu. Dan hari itu, aku terkejut sebab ibu memanggilku.

Aku sedang membaca buku novel yang salah satu temanku tulis. Ia bilang novel itu untuk diriku. Ia juga bilang buku novel itu terinspirasi dari kisahku. Aku baru membaca halaman ke 20 saat ibuku datang ke kamar. Aku menutup novel itu dan menoleh pada ibuku.

Wajahnya terlihat pucat. Tidak. Dia tidak sedang sakit. Kulitnya memang sangat putih dan bibirnya juga putih, jadi ketika tak memoles riasan pada wajah, ia akan terlihat sempurna seperti orang sakit. Ia menyebut namaku dan kemudian langsung duduk di sampingku. Ia bilang dengan suara halusnya, “Nak, ke ruang tamu yuk. Ada yang mau bertemu.”

Aku memandangnya sesaat sambil menggunakan alis dan mata yang bertanya-tanya. Ia menjawab pertanyaanku sebelum aku melontarkannya, “Ayah juga mau bicara, tentang laki-laki.”

Laki-laki? Siapa lagi yang ingin ayahku kenalkan? Aku sudah sering sekali memberikan pesan-pesan bahwa diriku tidak ingin menikah. Yaa mungkin ayahku itu masih belum mengerti. Mungkin ini saatnya aku mengatakan dengan telanjang. Aku harus mengatakan bahwa diriku tak suka lelaki dan aku tak ingin menikah.

Ibu lagi-lagi seperti bisa membaca perkataanku dalam hati. Dengan melihat wajahku yang diam memandangnya, ia mengatakan, “Sudah dengarkan saja ayah berbicara. Kamu cukup diam sambil senyam senyum saja.”

Alis mataku naik. Aku ini cerewet yang sulit sekali untuk sekedar senyam senyum dan mengangguk dan diam saja, apalagi jika perkataan ayahku sudah ‘di luar batas’. Ibu mengelus punggungku, “yuk nak, ikuti perkataan ibu. Nanti setelah itu, kamu obrolkan sama ibu saja.”

Aku tahu betul ibu tahu keinginanku. Ia adalah wanita yang super peka. Aku belum mengatakan lapar sudah diberi makan, aku belum mengatakan tak enak badan sudah disediakan obat dan bubur. Aku tahu ibu juga setuju dengan keinginanku. Aku bangun dari dudukku sambil memakai sandal berbulu yang biasa kupakai di rumah. Ibu ikut bangun dari duduknya dan menuntunku menuju ruang tamu.

Ayah memandangku saat ku tiba di ruang tamu. Aku tersenyum seperti permintaan ibu. Mungkin kali ini aku bisa berusaha menuruti kemauan ibu. Aku akan diam, mengangguk-angguk, dan senyam senyum. Kali saja kediamanku ini bisa membuat lelaki yang kini juga sedang memandangku melupakan niatnya melamarku.

Ayah mulai berbicara memperkenalkanku pada lelaki itu juga pada kedua orangtua lelaki itu. Ayah bilang aku baru saja lulus kuliah 3 bulan lalu. Ayah juga bilang aku memiliki target menikah dalam waktu dekat ini. Lelaki itu tertawa dan sang ibu dari lelaki itu membalas pernyataan ayah, “Iya, anak kami juga punya target menikah dalam waktu dekat ini.”

Melihat tiga orang asing ini di depanku ingin rasanya aku berikan teh panas berisi sianida biar sekalian mereka tiada dan aku tak lagi terbayang-bayang dengan kata pernikahan. Tapi, jika itu tujuanku mungkin aku bisa mulai dengan meracuni ayahku sendiri.

Dulu sekali saat aku masih berusia 10 tahun, buah dadaku tumbuh dengan sempurna, besar sekali, maksudku lebih besar dibandingkan perempuan seumuranku. Aku tidak senang melihatnya karena buah dada itu membuat mata lelaki di sekitarku tak berkedip memandangku. Aku juga tidak senang dengan buah dada itu karena membuatku jadi stress setiap pagi memilih pakaian yang menyembunyikannya. Ibu bilang itu anugrah. Ya, aku mengakuinya. Kini itu memang anugrah. Banyak teman perempuanku yang menginginkannya dan begitupula teman lelakiku.

Ketidaksenanganku pada buah dadaku saat itu semakin diperparah dengan sebuah kisah yang kuanggap bunga tidurku yang namun tak pernah menjadi bunga tidurku sebab itu adalah kejadian nyata.

Usianya lebih tua dari ayahku saat itu. Ia mengajar agama islam di sekolah. Janggutnya tebal dan peci tak pernah lepas dari kepalanya yang kotak. Di jidatnya terdapat sebuah tanda hitam. Kata orang, itu pertanda bahwa seseorang sering sholat. Di kelas, ia tak pernah mendekat ke mejaku. Ketika aku memberikan buku tugasku atau menyetor hafalan suratku, ia selalu menunduk atau mengalihkan pandangannya dari mata dan diriku. Awalnya aku biasa saja sebab kukira semua teman-temanku juga mendapat perlakuan yang sama, tapi aku mulai menyadari bahwa ia hanya melakukannya padaku.

Pikiran liarku mulai menyusun rencana. Aku akan mengajaknya mengobrol di luar kelas, aku akan mulai sering mengajukan pertanyaan di kelas, dan aku akan membuat hafalan suratku menjadi buruk sehingga ia akan geram dan menatapku. Melakukan itu semua-atau lebih tepatnya merencanakan itu semua tak pernah kukira menjadi awal buruk bagi hidupku. Aku hanya berpikir agar ia mau menghentikan sikap yang berbeda itu padaku. Aku masih bocah. Aku tak berpikir bahwa hal itu berbahaya bagi suatu hubungan laki-laki dan perempuan.

Hari itu, pelajaran agama islam usai di akhir sekolah. Bel berbunyi dan teman-temanku segera membereskan tas dan buku pelajarannya. Aku adalah murid terakhir yang setoran hafalan surat dan aku belum selesai menyetorkan surat saat itu. Demi mendengar bel pulang sekolah berbunyi, semua teman kelasku tak ada yang memperdulikanku sedang hafalan surat di meja bapak itu. Mereka langsung membereskan tas dan berlari ke meja guru untuk menyalami guru agama islamku itu. Tinggallah aku sendiri yang membereskan tas dan bukuku. Saat itu, aku sudah berhasil membuatnya melihatku.

Ia menghampiri mejaku, “Kenapa hafalan suratmu jadi memburuk? Kau ada masalah?”

Aku menggeleng masih sambil membereskan tasku.

“Jika kau ada masalah, kau harus cerita pada saya, sebab ini berpengaruh pada nilai hafalan suratmu.”

Aku mengangguk dan lalu menghadapkan wajahku padanya, “tapi saya tidak ada masalah apa-apa, Pak.”

“Baik, bagus kalau begitu. Sekarang berarti kau bisa menyetorkan hafalan suratmu lagi dengan lancar.”

Aku memandangnya beberapa detik dan lalu mengangguk. “Di mana, Pak? Di sini?”

“Ya enggaklah, ruang kelas akan segera dibersihkan, di rumah saya saja. Kamu pulang bersama saya.”

Tanpa berpikir apapun, aku mengangguk.

Akhirnya, kisah menyedihkan itu terjadi. Rumahnya sepi. Ia adalah suami dari seorang istri yang usianya sama dengannya dan ayah dari seorang anak laki-laki yang saat itu sudah duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu, anak laki-lakinya sedang sekolah dan istrinya sedang mengunjungi rumah orangtuanya beberapa hari sehingga rumah itu kosong, hanya ada dirinya denganku. Setelah hafalan suratku selesai, ia duduk di belakangku. Aku bisa merasakan nafasnya di leherku yang membuat diriku geli entah perasaan apa itu. Aku maju beberapa langkah, namun ia juga ikut maju. Aku menaikkan tas punggungku dan ia dengan perlahan menurunkan tas itu.

Aku bertanya dengan bingung, “apa yang sedang bapak lakukan?” tapi aku malah merasakan bibirnya menyentuk telingaku dan lengan kirinya melingkar di perutku lalu tangan kanannya menyentuh buah dadaku. Ia lalu berkata dengan nafas yang terengah, “buah dadamu memang besar.” Aku berusaha berteriak, tapi lengan kirinya sudah berada di mulutku. Sambil ia berusaha seakan membungkamku, tangan kanannya tiba di kemaluanku dan jarinya menulusuri sela-sela kemaluanku. Aku terengah, dadaku naik turun. Lalu kurasakan kemaluannya seakan meninju pinggangku.

Kejadian mengerikan itu berlangsung begitu saja tanpa aku berpikir harus menggigit tangannya dan lalu berlari keluar untuk meminta pertolongan atau apapun usaha agar aku terlepas darinya. Aku pernah menonton adegan-adegan semacam ini, tapi aku tak pernah tahu jika si wanita akan merasa benar-benar kaku seperti ini.

Ia berlari ke kamar mandi setelah puas membuat kemaluanku basah dan dadaku gemetar. Ketika ia pergi, aku terduduk di sofa di ruangan itu. Air mataku menetes dan aku yakin betul bahwa hatiku sedang tergores hingga terasa amat sakit.

Ketika tiba di rumah, aku diam seribu bahasa di kamarku. Ketika pergi mandi aku menggosok kemaluanku dan buah dadaku berulang kali. Ketika aku sedang sendiri air mataku menetes dengan lebatnya. Berhari-hari kulewati dengan tangis dan ketakutan. Setiap merasa ada benda di tubuhku aku berteriak. Mimpi-mimpi tidurku terpenuhi kejadian mengerikan itu. Setiap pagi datang dan ibu mengingatkanku untuk sekolah, keringatku berubah menjadi dingin.

Sejak saat itu, aku benci sekali dengan laki-laki. Dan saat ini, ketika ayah dari lelaki itu mengatakan bahwa anaknya ingin melamar diriku untuk menikah, aku tahu betul bahwa ia mengatakannya dengan suatu niat, niat untuk merasakan buah dadaku yang jauh lebih besar dari sewaktu SD.

Dan saat ayahku mengatakan, “Anakku pasti menerima lamaran ananda. Ya kan, nak?”

Aku langsung buru-buru mengatakan, “Tidak, Yah. Aku lesbian. Aku tidak suka laki-laki.”

Mereka semua yang mendengarku terkejut. Ayah dari lelaki itu yang paling terkejut. Matanya sampai mau keluar. Di balik pintu ruang tamu, ibuku tertawa kecil, sedangkan aku tertawa besar dalam hati.

*ket: foto adalah salah satu scene dari film Room (2015) yang diambil dari google.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s